Indonesia - English

DINAMIKA KEHIDUPAN

DINAMIKA KEHIDUPAN

Dalam kehidupan bersama, kita akan dapat merasakan ada dinamika kehidupan yang bergejolak, kadang hubungan dipengaruhi 2 jenis emosi, yaitu emosi negatif, kemarahan, kejengkelan, kekecewaan, ketidaksabaran dan sebagainya, tetapi kadang juga akan diwarnai oleh emosi positive kegembiraan, canda tawa, kebahagiaan, kesuksesan. Apakah saat emosi negatif terjadi, seketika kita memutuskan hubungan dengan komunitas kita atau dengan seseorang? Kalau seperti itu terjadi, berapa banyak korban Anda akan berguguran? Sampai kapan kita hidup dengan kekecewaan kekecewaan yang terjadi yang menghancurkan relasi kita? Jangan berkata mereka kejam, karena yang memutuskan relasi adalah diri Anda sendiri. Emosi negatif lebih sering terjadi di tengah kota yang semakin modern dan individual ini. Kesalahpahaman, ketergesaan, kesibukan mengakibatkan stress meningkat dan sangat banyak mempengaruhi keputusan keputusan kita, bahkan emosi negatif sering mendominasi kehidupan kita, tidak jarang mematikan api pelayanan kita karena berakhir dengan kekecewaan. Sebenarnya hal ini Yesus sudah peringatkan dengan memberikan kepada kita perumpamaan benih yang jatuh di jalanan yang tidak berakar dan benih itu dimakan iblis atau benih yang jatuh di semak belukar, karena kesulitan kehidupan membuat mereka gugur imannya dan hanya hidup untuk dirinya sendiri, bekerja bekerja untuk diri sendiri, kepuasan sendiri. Sering kehidupan kota besar membuat dan membentuk kita menjadi orang yang egois, mau menang sendiri sehingga kita melupakan prinsip pelayanan dan kasih. Sebenarnya ada rahasia agar hubungan antar individu tetap bisa baik. Kita akan belajar kekuatan dalam sebuah keluarga, kenapa dalam keluarga yang paling sering cek cok tapi bisa bertahan menghadapi dinamika yang seperti ini? Karena mereka memiliki toleransi yang tinggi dan comitment berupa perjanjian seumur hidup, covenant. Mereka tahu dan menyadari dinamika kehidupan itu pasti terjadi dan mereka memutuskan untuk tidak sakit hati terhadap setiap gesekan yang terjadi, mereka dapat memahami dengan baik satu dengan yang lain, hari ini cek cok besok sudah bisa kembali saling melayani. Menghindari sama sekali cek cok adalah mustahil, selama kita hidup bersama pastilah kita saling menajamkan, karena kita pasti punyabanyak sekali perbedaan prinsip, gaya hidup, budaya dan falsafah. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Terkadang kita lupa atau malas mengerjakan sesuatu, pasangan kita mengingatkan atau mendorong kita untuk terus melakukan, dorongan seperti ini penting walau kadang kalau berlebihan bisa menjengkelkan, kitamasih butuhkan agar kita tidak mudah putus asa ketika sedang ada hambatan dalam kita berusaha. Semangat juang itu terus dikobarkan lewat orang orang terdekat kita. Tapi jangan sebaliknya, orang orang di sekeliling kitalah yang memadamkan semangat kita sehingga kita tidak berani melakukan apapun lagi. Ini berbahaya karena akan membentuk mental pecundang. Dalam sebuah team, bersepakatlah untuk saling mensupport, sehingga kesulitan apapun siap untuk dihadapi. Dengan cara demikian, percayalah talenta kita semakin hari akan semakin bertambah. Kadang kegagalan itu bisa membentuk kita memiliki mental pemenang. Menghindari friksi adalah mental pecundang, masuki dan hadapi friksi itu agar kita semakin menajamkan dan ditajamkan. Ada baiknya setiap individu dalam kelompok apapun membuat komitmen untuk menghadapi problem bersama, ada crisis solution yang dibuat dan disepakati bersama untuk dijalani. Bagaimana saat friksi kita tidak merasa tertolak? Yang perlu kita sadari adalah bahwa di antara kita ada kasih yang sejati dan kesepakatan untuk sukses bersama sama. Kasih sejati tidak menjanjikan tidak ada kemarahan, justru demi menyelamatkan dari kesalahan lebih jauh, kemarahan kudus bisa saja terjadi untuk mengusir kebodohan kita, Efesus 4:31 -32, 31) Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. 32) Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Dalam Firman ini di katakan kita harus ramah, tetapi ada kata juga saling mengampuni, artinya tidak dapat dihindari membuat kesalahan dan kemarahan bisa terjadi, tapi kalau landasannya kasih, maka kita semua wajib saling mengampuni. Tidak ada kesalahan yang tidak terampuni selama diakui dan bertobat. Dalam kemarahan, kita tidak boleh sampai lepas kendali(out of control), agar kita tetap bisa menggunakan akal sehat kita dengan tidak menggunakan kata sia sia, kebun binatang, caci maki, kutukan, vonis ketidakmampuan. Kemarahan yang positive bukanlah kemarahan distructive, menghancurkan tetapi kemarahan yang constructive. Sebagai contoh kalau seseorang membuat kesalahan, bukannya di caci maki, tetapi pergunakan untuk dia berjanji memperbaiki sikap dan tanggungjawabnya. Hal seperti inilah yang disebut kemarahan yang contructive. Jadi tidak ada lagi alasan tidak mau mengampuni. Kehidupan yang penuh dengan dinamika itu justru lebih menggairahkan, karena ada tantangan tantangan yang harus kita taklukkan demi kemajuan kita. Seseorang berkata, semuanya sudah cukup, saya tidak memerlukan tantangan lagi. Orang ini akan mengalami kemunduran yang luar biasa, karena dunia yang competitive ini selalu berbicara dan mencari tantangan tantangan baru yang semakin dinamis. Kalau kehidupan kita stagnant, artinya kita mengalami kemunduran. Saya sempat berpikir demikian untuk beberapa saat lalu, tetapi untungnya saya segera tersadar, teman teman saya yang hidupnya sangat dinamis mengalami kemajuan kehidupan yang jauh lebih cepat dari pada teman saya yang memilih kehidupan yang lebih aman dan nyaman, kurang dinamis. Dari pengamatan saya ini, maka saya mulai menciptakan tantangan tantangan baru dan itu sangat menggairahkan. Membuat hidup semakin memiliki tujuan dan harapan harapan baru. Jangan berpikir pensiun segala galanya selama kita masih kuat. Pensiun untuk melayani lebih full adalah baik kalau memang di dalam waktu Tuhan, tetapi tidak baik kalau dasarnya emosi atau pelarian kita dari dunia nyata karena kita menolak friksi di dalamnya. Jangan kaget, di dunia pelayananpun friksi sangat besar, bahkan lebih sulit menanganinya, karena sikap profesionalitas kadang diabaikan. Apabila Anda dalam usia pensiun, ciptakan pensiun yang produktif agar kita juga tidak terlalu cepat menjadi tua dan pikun, tetap latih otot otot dan ingatan kita selama kita masih dikarunia kekuatan. Kalau secara ekonomi Anda sudah tidak perlu lagi berjuang, tetaplah lakukan aktivitas dengan dinamis, gali hobby positive Anda yang selama ini tidak dapat Anda kembangkan, misalnya bercocok tanam, berternak, memelihara ikan, menulis, melukis, menyanyi, olah raga ringan, membaca atau aktivitas apa saja yang sifatnya positive. Jangan justru seperti peribahasa tua tua keladi, makin tua makin menjadi. Kehidupan pensiun maupun bukan pensiun harus diikuti aktivitas yang dinamis dan bermanfaat. Kondisi fisik jangan digunakan alasan untuk kita tidak melayani, tetaplah menjadi berkat untuk keluarga, kerabat dan sahabat sahabat kita.

Elia Paul Ang dalam Inspirative Power Ministry.

Berita Terkait

Harga Velg Mobil Velg Mobil Modifikasi Mobil Spooring Mobil Finish Balance Harga Ban