Indonesia - English

Fasilitaskah yang ku perlu?

FASILITASKAH YANG KU PERLU?

Ada orang yang baru bisa bekerja apabila semua fasilitas telah tersedia. Semua harus bagus dan baru, alasannya adalah kalau bekerja jangan setengah setengah dan harus berhasil. Tidak ada yang salah dengan pandangan ini selama itu tidak menjadi beban biaya yang terlalu tinggi. Akan salah kalau ternyata yang dihasilkan terlalu kecil dibanding dengan yang akan di dapat.

Ada pula orang yang bekerja, walaupun tidak ada fasilitas dia bekerja dengan giat, dia mengejar semua target targetnya. Dia tidak pernah meminta fasilitasnya, tetapi selalu dapat membuktikan dia memiliki kelas yang tidak dapat di remehkan….Dia melayani dan memberikan yang terbaik yang dapat dilakukan tanpa menyimpan yang terbaik untuk tidak diberikan. Dia selalu puas melihat customernya boleh merasakan kepuasan tertingginya.

Orang yang terbiasa dengan adanya fasilitas akan sangat terganggu apabila fasilitas itu tiba tiba meninggalkan dirinya. Jangan kaget, sehebat apapun jabatanmu, bisa saja mendadak fasilitas itu meninggalkanmu. Apakah engkau akan terpuruk oleh ketidakadaan fasilitas itu? Bukankah kehidupan harus terus berjalan, perjuangan hidup tidak bisa berhenti begitu saja….

Mental seorang karyawan berbeda dengan seorang pengusaha yang benar benar dibangun dari modal dengkul. Seorang pengusaha bermodal dengkul akan menggeleng gelengkan kepala ketika melihat tuntutan gaji dan fasilitas seorang professional yang ingin direkrutnya dan dia berkata di dalam hatinya “Kalau permintaanmu segitu besar, kenapa engkau tidak menjadi pengusaha saja?”

Senin, 30 September 2013 saya bertemu dengan pengusaha autobus yang sangat besar, ada pertanyaan yang keluar dari teman saya yang intinya kurang lebih seperti ini, “Bagaimana kiat Bapak memulai usaha ini dan apakah kita bisa mengikuti kiat Bapak?” Jawaban yang mengejutkan kami dapatkan : “Asal kamu punya keberanian memulainya pasti bisa, mulailah dengan 1 unit bus yang kamu mampu beli, asal kau bisa bertahan saja dengan kesulitan yang ada, kamu pasti bisa”. Jangan menunggu semuanya ada baru jalan, tetapi mulaiah dari satu, kalau ditunggu semua fasilitas ada, maka tidak akan mulai mulai. Hampir semua pengusaha sukses itu tercipta karena kecelakaan. Orang yang tidak bisa diterima bekerja, mereka terpaksa harus berusaha sendiri, justru karena keterpaksaan inilah akhirnya mereka menjadi pengusaha sukses. Jadi sebenarnya bukan karena mereka berani, situasilah yang memaksa mereka menjadi seorang pengusaha yang berhasil.  Amsal 20:4-5

4 Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa

5 Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya

 Orang yang pandai dapat menimbanya, artinya rancangan yang adalah wacana dapat dilaksanakan, diaplikasikan menjadi suatu tindakan yang membawa hasil. Bukankah iman juga berbicara tentang realita yang tidak ada, tetapi kita percaya hal itu akan terjadi? Itulah cara bekerjanya iman. Apakah Yesus menyediakan fasilitas untuk para muridNya memberitakan kabar baik? Justru Yesus melarang para muridNya untuk membawa bekal dalam bentuk apapun, agar para muridNya tetap kuat dalam hal beriman akan pemeliharaan Tuhan, jadi tidak mengandalkan manusia atau fasilitas. Matius 10:7-10

7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

9 Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.

10 Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

Sadarkah Anda justru sering fasilitas itu justru membunuh mental entrepreneur Anda?  Dalam sebuah pertemuan para pengusaha sukses di Full Gospel Businessman saya se meja dengan beberapa orang pengusaha sukses, beberapa pengusaha mengeluhkan sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi yang sangat ternama yang mahasiswanya anak anak orang kaya, mereka pernah merekrut sarjana lulusan perguruan tinggi itu dan mengeluh, adapun keluhannya seperti ini : “Memang mereka sarjana yang sangat cerdas, tetapi mental mereka selalu fasilitas yang utama menjadi tuntutan, tidak sebanding dengan produktivitas yang  mereka hasilkan, sangat rendah, hampir hampir tidak bisa bekerja walau mereka sangat pandai, karena idealisme mereka jauh lebih kuat mengalahkan realita sehingga kita selalu kalah dalam bersaing”.  Ternyata para pengusaha di meja saya pernah merekrut sarjana dari perguruan ini dan menjadi kecewa, ini masalah besar. Pendidikan kita terlalu memikirkan meningkatkan IQ padahal ada EQ, SQ yang juga sangat penting dikembangkan, mereka mengabaikan. Mengerikan sekali kalau perguruan tinggi ternama tidak mengajarkan keseimbangan ini, hanya mengejar keuntungan dari sisi bisnis saja. Anda bisa bayangkan akan banyak generasi frustrasi yang dihasilkan di masa depan. Anda para pendidik dipercayakan Tuhan, para orang tua dan Negara untuk menciptakan suatu generasi penerus yang harus siap dengan tantangan di zaman mereka, zaman globalisasi yang sangat competitive.

Bahkan teman saya sendiripun anaknya kuliah di perguruan tinggi tersebut, orang tuanya sudah memberi fasilitas mobil, hanya saja mobil itu usianya sudah 5 tahun, dia protes pada orang tua dan berkata malu membawa mobil tua, karena tman temannya membawa mobil baru semua. Fasilitas, gengsi, gaya hidup sungguh sangat merusak generasi muda kita. Apakah Anda para pendidik masih akan berdiam diri menyaksikan product yang Anda ciptakan ini? Sampai sampai kami di meja itu menyimpulkan, anak anak yang dikirim keluar negeri jauh lebih baik, beberapa mereka menjadi pencuci piring di restaurant untuk membiayai kehidupan mereka sendiri tanpa rasa minder. Beberapa pengusaha sukses itu berkata, setelah anaknya selesai kuliah, mereka suruh anaknya melamar di sebuah perusahaan dan menjadi staff biasa selama beberapa tahun dengan tidak membuka identitasnya bahwa dia adalah anak pengusaha terkenal. Anak pengusaha lulusan luar negeri ini bekerja dengan sangat rajin tanpa fasilitas. Setelah 5 tahun bekerja, barulah ayahnya ijinkan dia bekerja di perusahaan sendiri, ternyata hasilnya luar biasa bagusnya.

Jadi fasilitas itu bukanlah yang utama, yang utama adalah iman dan kerajinan kita dalam bekerja. Fasilitas itu hanya melengkapi agar pekerjaan kita dapat lebih maksimal. Justru tidak jarang fasilitas itu membunuh produktivitas kita. Pikirkan ulang mengenai tuntutan Anda. Kalau Anda pernah menonton film Mc Giver, dia selalu berhasil selamat dengan memanfaatkan apapun yang ada di sekelilingnya dan itulah yang membuat film ini menjadi seru.

 

Elia Paul Ang dalam Inspirative Power Ministry.

Berita Terkait