Indonesia - English

Blaise Pascal

Blaise Pascal Ada yang menarik dalam kisah hidup Blaise Pascal, seorang genius penemu ilmu Pascal. Keluarga Pascal hidup secara rohani, keluarga Pascal adalah penganut sekte Jansenis, sekte yang merupakan sempalan dari SJ, mereka menjadi anti ordo SJ, karena saat itu SJ memberikan absolusi kepada orang orang yang mengaku dosa, sedangkan kaum Jansenis berpendapat absolusi hanya diberikan kepada mereka yang sungguh sungguh mampu membuktikan pertobatannya. Cornelius Otto Jansenis merupakan seorang teolog Katolik Flemish, pengajarannya sangat dipengaruhi oleh pengajaran St. Agustinus. Gerakkan ini dalam gereja Roma Katolik hidup selama abad 16-18, pengikutnya banyak orang terkenal. Ketika Blaise Pascal sakit, Blaise Pacal mendapat nasehat dokter yang sangat aneh yang menyarankan Blaise Pascal untuk tidak hidup terlalu serius dengan teori teorinya dan lebih menikmati hidup dengan bersenang senang. Saran dokter ini diikuti Blaise Pascal dan Blaise Pascal mulai hidup bersenang senang dengan teman temannya yang justru membuat hidup Pascal dalam kehancuran dan meninggalkan Tuhan. Blaise Pascal berfoya foya, mabuk mabukkan, ayahnya Etienne Pascal membiayai kehidupan Blaise Pascal hingga mengalami kebangkrutan dan meninggal dunia karena stress memikirkan kehidupan Blaise Pascal yang sangat buruk dan tidak bermoral. Nasehat nasehat Etienne Pascal tidak didengar Blaise Pascal. Saat Etienne Pascal bangkrut, Blaise Pascal sempat ditinggalkan teman foya foyanya, setelah Ettiene Pascal meninggal, Blaise Pascal kembali hidup berfoya foya dengan temannya untuk menghabiskan harta warisan. Kekosongan dalam hidup Blaise Pascal membuat dia butuh diterima oleh teman temannya, dia berpikir dengan berfoya foya dia menerima kebahagiaan dari mereka. Blaise salah, justru mereka adalah teman teman yang tidak baik, yang justru menjerumuskan kehidupan Blaise Pascal dalm kehancuran yang lebih dalam. Masalah yang di hadapi Blaise Pascal adalah krisis identitas. Dengan habisnya harta warisan membuat Blaise menyadari kesalahan jalan hidupnya. Blaise mulai bangkit dan mulai menulis untuk sekolah Port Royal. Saat Blaise Pascal menerima pembayaran uang, hampir Blaise Pascal kembali mabuk mabukkan, tapi untungnya Blaise memutuskan untuk berani berkata "Tidak!" Tidak untuk coba coba walau hanya untuk 1-2 gelas bir saja. Kehidupan Blaise membaik. Suatu hari Blaise Pacal merasa panggilan untuk melayani sangat kuat, dia jual semua hartanya dan Blaise bagi bagikan kepada orang miskin, sehingga kehidupan Blaise kembali susah lagi, bahkan sampai sempat menjadi pengemis. Namun Blaise bisa bangkit kembali untuk menjadi ahli matematika. Pada tahun 1661 kehidupan Blaise Pascal benar benar terguncang karena kematian adiknya, Jacqueline Pascal. Blaise Pascal tidak mau melupakan kejadian itu dan berlarut larut mengalami kesedihan. Semua nasehat teman teman dan saudaranya ditolak. Dia memutuskan tidak mau bangkit dan menyalahkan Tuhan atas kematian adinya serta meratapi nasib, dia berkata seharusnya dialah yang mati lebih dulu karena dia kakaknya. Akhirnya kondisi Blaise Pascal semakin hari semakin memburuk dan setahun kemudian Blaise Pascal meninggal pada 19 Agustus 1662. Apa yang kita pelajari dari tokoh Ilmu Pascal ini. Dia memiliki talenta yang luar biasa, tetapi hidupnya terjerumus dalam kehancuran oleh teman teman yang tidak baik, mereka memboroskan hartanya dengan tidak bijaksana. Teman teman yang tidak benar membuat kehidupan Pascal menjadi susah dan bangkrut. Jadi kita dalam hidup perlu memilih teman yang baik agar kita dapat hidup menjadi lebih baik. I Korintus 15:33-34 (33) Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (34) Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. Pascal sempat bangkit dan kembali ke jalan yang benar. Tapi kejadian kematian adiknya Jacqueline membuat Blaise Pascal menyalahkan Tuhan dan berlarut larut dalam kesedihan serta meratapi nasib. Situasi dan kondisi yang tidak bisa menerima kenyataan hidup dan selalu bisa bersyukur dalam situasi baik dan buruk, justru membuat hidup kita bisa hancur. Kita perlu tegar dalam hidup ini dengan kekuatan pengucapan syukur. Blaise Pascal menyesali kehidupannya sehingga Blaise benar benar tidak dapat bangkit kembali. Mari kita belajar dari kisah Blaise Pascal ini. Jangan Anda menghancurkan kehidupan Anda dengan terus menyesali kegagalan kita, kebodohan kita dan kehancuran kita. Kalau kita terus hidup seperti ini, energy kita akan terkuras habis dan kita tidak memiliki kesempatan untuk bangkit kembali. Lebih bijak kita mengumpulkan energy kita dan kita mulai membangun kembali masa depan kita. Percayalah kesempatan masih ada dan raihlah itu untuk memperbaiki masa depan kita lebih baik dari sekarang. Penyesalan berkepanjangan adalah sia sia dan tidak ada manfaatnya untuk kita. Boleh sedih tapi jangan berlama lama, harus secepatnya hati kita gembira lagi agar kita menjadi kuat kembali. Hidup yang dikuasai emosi, mudah hancur, emosi harus dapat dikendalikan. Seseorang yang dapat mengendalikan emosi dikatakan cerdas secara emosi, orang seperti inilah yang mempunyai kunci kesuksesan dan dapat bertahan saat mengalami kesusahan dan penderitaan di dalam kehidupan ini. Kesusahan dan penderitaan itu bukan untuk disesali, tetapi harus menjadi pemecut kita untuk mencapai next level kita. Kesusahan dan penderitaan tidak perlu disesali, tapi jadikan batu loncatan untuk kehidupan kita menjadi lebih baik. Semua orang pernah susah, semua orang pernah gagal bahkan banyak orang juga pernah bangkrut, Anda sedang tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami dan dipulihkan Tuhan. Orang orang yang tidak menyesali nasibnya selalu memiliki kekuatan baru untuk bangkit. Tuhan akan sanggupkan kita dan memberi kekuatan kita yang senantiasa berharap padaNya. Elia Paul Ang dalam Inspirative Power Ministry.

Berita Terkait